Aktivitas Seru: Belajar Menangkap Ikan Secara Tradisional di Lombok

Saya nggak pernah menyangka, liburan ke Lombok kali ini bakal jadi salah satu perjalanan paling berkesan dalam hidup saya. Bukan karena pantainya, bukan karena sunrise di bukit, tapi karena satu hal sederhana yang belum pernah saya alami sebelumnya: belajar menangkap ikan secara tradisional bareng nelayan lokal.

Awalnya saya kira akan biasa saja. Tapi ternyata, justru di situlah letak magisnya.

Kenapa Milih Aktivitas Ini?

Waktu browsing aktivitas di Lombok, kebanyakan yang muncul adalah snorkeling, gili hopping, atau hiking ke Rinjani. Tapi saya dan dua teman dekat pengin sesuatu yang beda. Sesuatu yang nggak terlalu turistik, tapi tetap menyatu dengan alam dan budaya setempat.

Akhirnya, kami ketemu salah satu penyedia paket tour lombok yang menawarkan aktivitas belajar menangkap ikan tradisional di desa nelayan kecil di Lombok Timur. Kami langsung tertarik.

Kami memang suka petualangan ringan, dan rasanya asyik banget kalau bisa merasakan bagaimana cara masyarakat lokal mencari nafkah—dengan tangan sendiri, alat sederhana, dan kerja sama tim.

Mulai Hari dari Subuh

Hari itu kami bangun sebelum matahari terbit. Dijemput oleh mobil pickup, kami dibawa menuju pesisir desa nelayan di pinggiran Pringgabaya. Langit masih gelap, tapi suara ayam dan adzan subuh sudah terdengar bersahut-sahutan.

Sesampainya di sana, udara terasa lembab dan segar. Aroma laut bercampur dengan bau kayu dari perahu-perahu yang berjejer. Kami disambut hangat oleh Pak Amin, nelayan yang akan jadi “guru” kami pagi itu.

Dia hanya mengenakan sarung dan kaos oblong. Senyumnya lebar, dan tangannya kasar tapi hangat saat menjabat tangan saya.

Belajar Pakai Jaring Tradisional

Sebelum berangkat ke laut, kami diajari dulu cara menggunakan jaring lempar tradisional—orang lokal menyebutnya “jala”. Ternyata tidak semudah kelihatannya. Harus bisa melipat, menahan beratnya, lalu melempar dengan gerakan memutar agar jala terbuka sempurna di udara.

Kami latihan di pinggir pantai sambil tertawa-tawa karena berkali-kali jala saya jatuh begitu saja, menggulung seperti mie. Tapi Pak Amin sabar sekali. Beliau bilang, “Nggak papa, dulu saya juga butuh waktu seminggu buat bisa melempar jala dengan benar.”

Setelah cukup latihan, kami naik ke perahu kecil yang ditarik oleh tali sejajar garis pantai. Ini bukan perahu mesin, melainkan perahu dayung tradisional. Seperti sudah lama menyatu dengan laut.

Menyusuri Laut Sambil Cerita

Sepanjang perjalanan di atas perahu, Pak Amin bercerita banyak hal. Tentang laut, tentang cuaca, tentang musim ikan, dan tentang kenapa dia tetap melaut meski penghasilannya tidak selalu pasti.

“Kalau saya nggak turun ke laut, saya nggak bisa tidur,” katanya. “Laut sudah jadi bagian hidup.”

Saya diam, mendengarkan angin laut, merasakan gerakan pelan perahu, dan membayangkan kehidupan yang begitu dekat dengan alam.

Menebar Jala: Antara Serius dan Seru

Setelah tiba di spot yang ditentukan, kami berdiri di atas perahu. Agak goyah, tentu saja. Tapi begitu jala dilemparkan oleh Pak Amin, suasana langsung jadi serius. Kami diajak ikut melempar satu per satu. Meski hasilnya belum sempurna, ada rasa puas setiap kali jala mengenai air dan menyebar membentuk lingkaran.

Beberapa menit kemudian, kami menarik jala bersama. Nafas ngos-ngosan, tangan basah, dan… ya, akhirnya kami dapat ikan! Bukan banyak, tapi cukup untuk bikin semua orang teriak kecil karena semangat.

Ada ikan kecil, ada udang, bahkan ada satu kepiting yang nyangkut. Anak-anak nelayan yang ikut menemani kami bersorak sambil memegangi ember tangkapan.

Makan Siang dari Tangkapan Sendiri

Setelah selesai, kami kembali ke darat. Dan di situlah kejutan berikutnya menanti. Ibu-ibu di desa sudah siap memasak hasil tangkapan kami. Kami bantu membersihkan ikan, menyalakan api, dan mulai memanggang dengan bumbu sederhana: garam, jeruk purut, dan sedikit sambal terasi.

Makan siang kami hari itu terasa luar biasa. Duduk di bawah pohon kelapa, dikelilingi warga desa, makan nasi hangat dengan ikan hasil jerih payah sendiri. Sederhana, tapi sangat membekas.

Jelajah Lombok Tour: Mitra Perjalanan yang Tahu Apa yang Dicari

Semua pengalaman ini kami dapatkan dari Jelajah Lombok Tour, penyedia perjalanan lokal yang memang mengerti betul tentang wisata berbasis budaya dan alam. Mereka tidak hanya menjual itinerary, tapi merancang pengalaman yang benar-benar hidup.

Mulai dari penjemputan, komunikasi dengan nelayan, sampai sesi makan siang bersama—semuanya tertata rapi tapi tetap terasa natural.

Kalau kamu ingin pengalaman yang berbeda dari biasanya, bisa coba cek penawarannya di sini:
👉 paket tour Lombok

Apa yang Saya Pelajari dari Aktivitas Ini?

Jauh dari gadget, dari urusan pekerjaan, dari hiruk-pikuk kota, kami justru menemukan banyak hal:

  • Belajar bersyukur, karena mencari ikan di laut itu butuh tenaga dan kesabaran

  • Merasakan kebersamaan, karena kami kerja bareng dalam satu jala

  • Menghargai tradisi lokal, yang makin lama makin ditinggalkan

  • Menyatu dengan alam, bukan sekadar menikmatinya dari jauh

Dan yang paling penting: kami pulang dengan hati penuh, bukan hanya memory card penuh.

Siapa yang Cocok Ikut Aktivitas Ini?

  • Keluarga dengan anak-anak yang ingin mengenalkan aktivitas alam

  • Pasangan yang ingin liburan yang beda dari sekadar staycation

  • Traveler solo yang mencari ketenangan dan koneksi dengan budaya lokal

  • Komunitas atau grup kecil yang ingin aktivitas bonding

Nggak butuh skill khusus. Yang dibutuhkan cuma rasa ingin tahu dan kemauan buat kotor-kotoran sedikit demi pengalaman yang berharga.

Tips Buat Kamu yang Mau Coba

  1. Bawa pakaian ganti dan sandal tahan air

  2. Gunakan sunscreen dan topi, karena cuaca bisa panas

  3. Siapkan plastik atau dry bag buat barang elektronik

  4. Jangan terlalu sibuk foto-foto—nikmati prosesnya

  5. Ajak ngobrol warga lokal—mereka ramah dan suka cerita!

Saya percaya, Lombok bukan hanya tempat untuk menikmati pemandangan, tapi juga tempat untuk “bertemu” cara hidup lain yang membuat kita lebih manusia.

Dan lewat pengalaman menangkap ikan secara tradisional, saya merasakan itu semua. Bukan cuma seru, tapi juga penuh makna.

Kalau kamu bosan dengan liburan yang itu-itu aja, cobalah mendekat ke alam dan budaya. Siapa tahu, justru di situ kamu menemukan ketenangan dan kebahagiaan yang selama ini kamu cari.